Rasa "Manis" yang Menakutkan - Catatan Deby

Post Top Ad

Minggu, 29 Januari 2017

Rasa "Manis" yang Menakutkan

(Foto diatas bukan foto pelaku)

Seperti biasa, hari Selasa adalah jadwal emak rempong ke pasar. Maklum disini pasarnya hanya buka 2x seminggu, ndeso yaa..
Cerita pasar hari ini begitu mengerikan, bercampur dengan rasa takut.
Saat itu saya akan berbelanja kebutuhan sekolah si sulung, mau membeli topi sekolahnya yang sudah berapa kali hilang dalam 6 bulan, seperti menjadi rutinitas ke toko ini. Karena ada saja perlengkapan sekolahnya yang hilang.
Sambil menunggu dilayani pemilik toko, mata ini tertuju pada 3 orang anak laki-laki yang masih berseragam SD, mereka hampir sebaya, tapi sepertinya sih kakak beradik, karena mukanya mirip.
Tanpa sengaja, saya melihat aktifitas mereka yang bikin jantung mau copot.

Saat saya melirik, saya melihat yang paling besar memegang/menyenggol dengan sengaja "anu" si adik sambil ketawa-ketawa, sang adik pun tertawa-tawa. Dan mereka melakukannya bergantian. Lalu terdengar ucapan dari salah seorang mereka yang bertubuh paling kecil " sungguh manis rasanya" ketika "anu"nya dipegang abangnya sambil cekikikan.

Astagfirullah, saya kaget. Langsung saya pelototin mereka, dan mereka balas menatap saya tanpa rasa malu dan bersalah. Saat kejadian ibunya sedang asyik berkomunikasi dengan pemilik toko.

Sungguh, jantung saya berdetak hebat. Mereka masih SD sudah mengerti hal itu, dan yang paling parah mereka tidak malu ketika kepergok orang lain, astagfirullah.

Sungguh memang benar, arus informasi sekarang ini begitu deras. Terkadang susah untuk memblokirnya. Peran aktif orang tua sangan dibutuhkan. Kita tidak bisa mengatakan, ah masih kecil, ah ga mungkin, atau alasan lainnya. Mungkin dirumah kita tidak terlalu awas memperhatikan tingkah polah anak-anak kita, membebaskannya menonton TV atau Youtube tanpa pengawasan. Belum lagi pergaulan mereka diluar rumah. Boleh jadi kita bisa membatasi TV ataupun internet dirumah, mampu mengawasi tontonan mereka, namun diluar rumah kita tidak pernah tahu apa yang teman-temannya lihat dan ajarkan.

Saya yang punya anak laki-laki masih kecil, sungguh sangat khawatir melihat fenomena ini. Sebagai ibu, saya sangat membatasi tontonan anak-anak. TV tidk pernah lagi dinyalakan, sudah 2 tahun lebih. Jika mereka menonton Youtube selalu saya awasi.
Selain itu, saya selalu ajarkan kepada si sulung apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Saya selalu mewanti-wanti seperti ini
" jangan bolehkan siapapun memegang ini dan ini (sambil menunjuk auratnya), siapapun termasuk teman, guru, siapapun, kalau ada yang pegang lapor ke bunda dan abi".

Baca Juga:
Teruntuk Suami yang Lupa Diri
Shafeeya yang Makin Banyak Di Cari

Sungguh, bukanlah salah anak-anak jika mereka mendapatkan informasi yang belum saatnya mereka ketahui. Orangtua dan lingkungan menjadi penyebab utama mereka mendapatkan informasi itu. Banyak diantara orangtua yang tidak memperdulikan tontonan, aktifitas dan pergaulan anaknya.

kita sebagai orang dewasa seharusnya memberikan tuntunan, tontonan yang baik. Apalah yang diketahui oleh anak-anak SD, hidup mereka baru saja dimulai, tidak tahu banyak tentang dunia, bahkan mengenai hal baik dan buruk pun, mereka belum bisa memahami semuanya. Sedang kita yang sudah lebih lama hidup, belajar tentu harusnya lebih mengerti mana yang baik dan mana yang buruk.

Parents, mari sama-sama kita jaga anak-anak kita, masa depan mereka masih panjang. Orang tua mana yang ingin melihat anaknya hancur dimasa depan. Berat memang, tapi itulah tugas kita sebagai orang tua, melindungi dan mengajari mereka. Sebelum mereka belajar mari kita belajar menjadi orang tua yang peduli pada anak-anaknya.

Post Top Ad