2018 - Catatan Deby

Post Top Ad

Selasa, 30 Januari 2018

Perjuangan Anak Berkebutuhan Khusus

14.15.00 0
ABK atau anak berkebutuhan khusus. Apa yang terpikirkan dibenak bunda semua ketika mendengarnya?
Autisme, cacat mental, idiot, lumpuh, lemah, najis, kasihan ga perduli, miris atau kesan negatif lainnya.

Salah satu anak saya juga ABK, ia divonis mengalami gangguan hormon tyroid dimana hormon tyroidnya kurang dari yang semestinya atau hipotyroid.
Bagaimana pengaruh keperkembangannya?
Ya, sangat berpengaruh banyak. Tumbuh kembangnya jadi terganggu. Sekarang usianya 5 tahun, tapi tinggi dan beratnya hampir sama dengan adiknya yang usia 3 tahun. Hingga saat ini ia belum bisa bicara. Suka tantrum dengan melampiaaskan kepada adiknya, seperti memukul dan mencakar. Tingkat kepintarannya? saya belum uji pastinya seperti apa, tapi ia baru mengenal anggota tubuh saja.
Kasian?
Ga usah bunda hehe karena ia tak boleh hidup dengan rasa kasihan.
Ia harus tetap belajar mandiri seperti orang-orang normal lainnya.

Tahukah bunda, kalau anak berkebutuhan khusus itu memiliki hidup yang sangat berat dibandingkan kita orang normal?

contohnya seperti ini
1. harus kuat melihat pandangan orang-orang sekitarnya yang memandangnya rendah
2. harus kuat terhadap orang-orang yang menghina dan mengejeknya
3. harus menghadapi berbagai macam test, minum obat tiap hari bahkan harus terapi seumur hidupnya.

Sudah ga heran lagi kalau masih banyak masyarakat kita yang memandang ABK seperti memandang rendah, hina atau pandangan negatif lainnya.
Banyak juga masyarakat kita yang mengolok-olok mereka seolah mereka pantas mendapatkannya.

Tahukah bunda, bagaimana perjuangan mereka dalam menjalani hidup diantara orang-orang normal seperti kita?

Saya yang sudah menjalaninya selama hampir 3 tahun, tahu pasti betapa tangguhnya mereka. Anak saya saja mesti minum obat rutin setiap harinya, dan itu sampai sekarang.
Selain obat, mereka juga harus mengikuti sesi terapi. Kalau anak saya minimal 2x seminggu.
Terapi mungkin bagi kita hanya kegiatan yang biasa tapi bagi mereka itu menyakitkan dan tak nyaman.
Musa setiap sesi fisioterapy selalu meronta dan menangis, padahal hanya dielus dan dipijat saja.
Apalagi kalau di bedong dan ditutup matanya.


Ya, anak-anak yang autis harus difisioterapi dan dibedong untuk membuatnya tenang, dan itu harus rutin dilakukan. Sekali sesi bisa memakan waktu minimal 30 menit.
Sampai kapan?
Sampai ia mendapatkan kepercayaan kalau ia bisa tenang.
Selain itu juga ada tindakan standing up bagi mereka yang belum bisa berdiri dan berjalan, diikat berdiri selama lebih kurang setengah jam.
Slain itu, makan mereka pun harus diatur, ada diet khusus terhadap jenis tertentu.
Itu baru segelintir saja perjuangan mereka.


Dibandingkan kita yang normal, dimana kita ga perlu melewati hal-hal seperti itu.
Mereka harus melewati semua, agar bisa mencapai kenormalan seperti kita, walau kadang itu tak mungkin tercapai. Tapi paling tidak bisa memberi efek positif bagi mereka, seperti bisa lebih tenang atau memahami apa yang kita katakan.
Perjuagan mereka begitu berat lho bunda. Sebagai orang tua, kita pun mesti kuat hati. Apalagi pas sesi terapi. Jika mereka menangis, kita ga boleh iba karena ini untuk kebaikan mereka juga.

Sedihnya itu, ketika ada anak ABK yang tidak diurus keluarganya. Karena masih banyak masyarakat yang tidak peduli dan tidak tahu kebutuhan anak ABK. Ketika memiliki anak ABK tak sedikit orang tua yang malu sehingga membiarkan mereka tanpa perhatian khusus. Tidak mendapatkan pendidikan dan penanganan sebagaimana mestinya. Dikurung bahkan dikucilkan, seolah-olah mereka itu aib dan membuat malu keluarga.


Jadi, janganlah merendahkan mereka hanya karena kondisi mereka.
Mari bantu mereka dengan senyuman, beri mereka semangat.
Jika bunda temui salah satu dari mereka, dekatilah dan tunjukan kasih sayang bunda pada mereka, karena mereka pun ciptaan Allah, sama seperti bunda.
Dan derajat mereka tidak lebih rendah dari kita yang normal.

Luv u Musa

Read More

Post Top Ad